Rabu, 23 Juli 2008

Sudi peduli 63 Tahun Indonesia Merdeka

Sudi peduli
63 Tahun Indonesia Merdeka

Sudikah peduli pada rakyat
pada langkah manusia
upaya daya

Tidak sulit tidak mahal

tiap hari, tiap minggu, tiap bulan
kesempatan ada, peluang terbuka

belanja:makanan;minuman;baju;
cobalah sekali dua dan terus

belanjakan uang pada mereka yang berjuang dengan sederhana

Pedagang keliling: Tukang-tukang; Abang-abang; Mbok-mbok; Mbak-mbak; Ibu-ibu; Adik-adik;

Para pedagang makanan,minuman
Berkeliling
Mennjual:ketoprak; bubur ayam; tukang bubur kacang hijau; ketupat sayur; laksa;toge goreng;soto; tukang ketoprak,gorengan; kue-kue;pecel,bajigur;batagor; rujak juhi,rujak,buah-buahan;rujak bebék, cendol;tukang; bakso; mie aya; putu mayang;es doger;sate padang;kembang tahu; jamu

Para penjual jasa
Odong-odong: pengantar anak-anak keliling kampung dengan ‘becak’ berhias binatang dan full music
Permak jeans: penjahit permak celana atau pakaian jeans agar pas dipakai
Las: pandai besi merekat sesuai kebutuhan
Pijat: pemijat, yang mengabarkan kehadirannya di malam hari dengan bebunyian unik
Gorden; pemasang dan menjual perlengkapan gorden
Pengasah pisau

Para pedagang dan penjual:
Koran; perabotan plastik; meja&kursi kayu;tangga bambu;al qur’an; pajangan dan hiasan rumah

Pada mereka Indonesia memantul:
Kerja keras berkeliling kampung pukul 23:00 seperti pedagan sate
Kreatifitas seperti odong-odong
Gigih seperti tukang permak jeans,istilahnya jemput bola
Pantulan tentang ketidak adilan
Keringat tercurah
Tak setara upah (buahnya)

Pada anda
Indonesia tercermin

Sudikah
Berpihak
Pada yang berhak

Selasa, 22 Juli 2008

BOEDI UTOMO Tetepkan 20 Mei sebagai HARKITNAS ?

Seabad Budi Utomo - Tepatkah 20 Mei Jadi Harkitnas ?


Laporan Aboeprijadi Santoso (wartawan Radio Nederland) dari Jakarta 21-05-2008
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyambut ulang tahun seabad Hari Kebangkitan Nasional Harkitnas tanggal 20 Mei kemarin, dengan seruan "Indonesia Bisa!". Kata-kata ini diserukannya sampai tiga kali untuk mengajak seluruh bangsa bersemangat optimistis. Celakanya, menjelang kenaikan harga BBM ini, khalayak umum malah menyindir Harkitnas sebagai hari keterpurukan nasional di bawah SBY-JK ("Susah Bbm, Ya Jalan Kaki saja!"). Koresponden Aboeprijadi Santoso pada perayaan harkitnas di museum sekolah kedokteran STOVIA di Kwitang, Jakarta mewawancarai sejarawan Rushdy Hussein.Sejarawan Rushdy Hussein menunjuk, hari lahir Boedi Oetomo 20 Mei 1908 pertama kali dirayakan pada tahun 1948, ketika Republik yang baru ini, terancam terpuruk akibat perpecahan. Kini, harkitnas jadi kontroversi. Presiden Soekarno pada tahun 1948 sudah mengimbau agar tanggal tersebut kelak ditinjau kembali. Jadi, 20 Mei belum tentu tepat sebagai lambang kebangkitan nasional.
Rushdy Hussein [RH]: Ya, hati saya juga melankolik dalam rangka peringatan 100 tahun ini. Sesungguhnya ada yang perlu kita garisbawahi. Kita itu melaksanakan peringatan baru 60 kali.
Aboeprijadi Santoso [AS]: Artinya yang pertama kali tahun 1948.
RH: Tahun 1948. Jadi, ketika itu Hatta baru saja diangkat sebagai perdana menteri, akhir bulan Januari. Amir Sjariffudin sudah selesai. Ketika itu golongan oposisi yang berseberangan dengan pemerintah mengadakan apa yang disebut FDR, Front Demokrasi Rakyat, yang menyatakan pemerintah salah jalan. Perjanjian Renville itu satu kesalahan besar yang merugikan republik.
AS: Perjanjian Renville kan ditandatangani oleh Amir Sjariffudin, pemimpin FDR?
RH: Betul. Amir Sjariffudin menyesal menandatangani hal tersebut. Karena itu memperburuk keadaan. Membuat sebetulnya keadaan republik ini sudah jatuh ketiban tanggal pula. Jadi pada saat itu ada eksponen para elite Indoneisa awal, adalah Ki Hadjar Dewantoro, pendiri Indische Partij dan satu lagi adalah dokter Radjiman. Keduanya itu menghadapi menteri PDK Mr. Ali Sastroamidjojo, membicarakan keterpurukan republik pada tahun 1948. Dan rupa-rupanya hal itu dibawa kepada Bung Karno dan Perdana Menteri Hatta. Lalu mereka mencari acuan supaya bangsa ini bisa termotivasi, mau menyatukan pikiran. Karena republik pada tahun 1948 di pinggir jurang. Seperti telor di ujung tanduk. Dan memang dalam proses kita akan ditiadakan oleh Belanda yang sudah bekerjasama dengan negara-negara bagian, tentunya ya. Kemudian dicarilah dan disepakati bahwa peristiwa lahirnya Boedi Oetomo tanggal 20 Mei 1908 diangkat sebagai hari kebangunan nasional. Dan proses selanjutnya adalah membentuk panitia, ketuanya adalah Ki Hadjar sendiri dan anggotanya semua partai politik. Dengan harapan partai politik yang lagi bertengkar ini di dalam wadah itu bisa memiliki kesatuan pendapat melawan Belanda. Misalnya wakil Ki Hadjar adalah Tjoegito, PKI, kemudian dari Masyumi juga, dari PNI, alhasil acara itu diselenggarakan tingkat nasional dan internasional. Di Surakarta itu ada satu monumen, namanya Patung Lilin, Persatuan Partai Politik Indonesia. Kumpulan partai-partai politik. Tugu Lilin itu pada tahun 1933 dilarang oleh Belanda. Nah, tahun 1948 ini menarik, ketika kita dalam situasi yang mencekam, di Solo itu banyak pasukan Hijrah, Siliwangi dan sedikit banyak terjadi konflik juga dengan pasukan yang ada di sana. Itu bisa mengadakan satu pawai bersama. Mengadakan acara-acara pertandingan- pertandingan, ziarah ke makam-makan. Alhasil 20 Mei tahun 1948 itu ada citra barulah, pemikiran-pemikiran baru.
Nah, yang perlu dipertanyakan adalah kenapa Boedi Oetomo. Yang menarik adalah ketika resepsi malam hari, Bung Karno berpidato yang namanya satu machtspolitiek, bagaimana kita menghidupkan semangat politik golongan rakyat untuk melawan Belanda.
AS: Machtspolitiek, politik kekuasaan?
RH: Politik kekuasaan dan tentu bagaimana persatuan. Persatuan kesatuan ini menjadi begitu penting pada saat itu ya. Karena kita tidak memiliki apa-apa kecuali persatuan. Tapi dia menggarisbawahi, andaikata bisa diselenggarakan peringatan kebangkitan nasional ini pada tahun-tahun mendatang, cobalah dievaluasi setiap 10 tahun. Maksudnya tentu, apakah benar mengambil angka 20 Mei itu, artinya lahirnya Boedi Oetomo itu tepat. Itu yang dia mau bicarakan. Dan rupa-rupanya kita lupa, sampai hari ini tetap saja secara tradisional menggunakan istilah itu kan lahirnya Boedi Oetomo. Ini menimbulkan polemik sekarang-sekarang ini. Setelah zaman Reformasi, apa betul?
AS: Kira-kira menurut Bung Karno apa yang layak merupakan lambang kebangkitan nasional?
RH: Itu dia mengkaitkan dengan lahirnya elite Indonesia moderen. Sebelum abad ke 20 perjuangan kita bersifat kedaerahan, bersifat kekuatan fisik tanpa memperhitungkan kekuatan otak. Jadi hanya otot yang dipertaruhkan.
AS: Cara tentaralah, ya?
RH: Tentara. Dan orang lupa, perjuangan fisik dengan menggunakan senjata moderen, itu baru sebatas otot, belum otak. Tapi 1908 senang atau tidak senang itu sudah menggambarkan bahwa otak Gerakan etis itu antara lain dengan warna-warni ereschuld itu memunculkan satu peristiwa besar, yaitu pendidikan bagi semua orang di Hindia. Tanpa pilih bulu. Dan pendidikan itulah sebetulnya yang menyadarkan orang
Keterangan gambar : peringatan Kebangkitan Nasional pertama tanggal 20 Mei 1948

Rabu, 16 Juli 2008

100 th Kebangkitan Nasional

SEBAGAI MANTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA BJ. HABIBI SEBAGAI KEPALA PERTEMUAN ANTAR PROFESOR DAN PELAJAR DARI SELURUH DUNIA.


Den Haag - Setelah kemunculannya yang menyita perhatian di Jakarta, Prof. Dr. Ing. Dr. Sc.hc BJ Habibie ditunggu kehadirannya di Belanda oleh para profesional dan pelajar dari berbagai penjuru dunia.

Habibie dijadwalkan hadir sebagai pembicara kunci pada perhelatan ilmiah Indonesian Student’s Scientific Meeting 2008 (ISSM 2008) www.issm2008.eu di Delft, 13-15 Mei mendatang dengan tema Sustainable development in Indonesia: An Interdisciplinary Approach.

Empat pembicara kunci lainnya adalah Prof. Emil Salim, Prof. ir. G.J. Harmsen (Sustainable Chemical Technology, University of Groningen), Prof. Dr. Saul Lemkowitz (Associate Professor in Risk Management and Sustainability Delft University of Technology) dan Prof. Dr. Johan Sanders (Valorisation of Plant Production Chains, Wageningen University).

ISSM2008 yang merupakan hasil kerjasama ISTECS Chapter Belanda, PPI Delft, PPI Wageningen dan didukung sepenuhnya oleh KBRI Den Haag ini sudah disiapkan sejak musim semi 2007 lalu. Pelaksanannya sengaja mengambil momentum 100Th Kebangkitan Nasional tahun ini.

Hingga tenggat penyerahan abstrak makalah pada 20/1/2008 lalu, tercatat ada 133 abstrak yang berasal dari calon peserta dari berbagai penjuru dunia. Jumlah ini jauh melampaui target yang semula ditetapkan, yakni 60 abstrak.

Saat ini Scientific Committee sedang bekerja keras menyeleksi abstrak makalah yang masuk, mana yang layak maju sebagai presentasi oral dan poster, dan harus sudah tuntas sesuai tenggat pada 15/2/2008 mendatang.

Bagi peserta, forum ISSM ini berguna untuk membuka akses ke publikasi ilmiah nasional maupun internasional. Peserta yang berlatarbelakang dosen juga akan mendapat nilai KUM 15 jika karya mereka diterima sebagai presentasi oral dan nilai 10 jika diterima sebagai poster.


Saat Pancasila Digantikan Oleh Ideologi Pasar Bebas Dan 1oo thn KITNAS Bangsa Indonesia Akan Selalu Di Hantui Dengan Era Perdagangan Bebas 2015 - 2030.

S udah sepekan lebih, spanduk besar berwarna putih terlihat menonjol di beberapa sisi jalan, bersaing dengan berbagai iklan produk makanan, minuman, maupun kartu kredit. Dalam spanduk itu, gambar mantan Presiden Soekarno yang mengenakan pakaian warna putih dan kaca mata hitam disandingkan dengan putrinya Megawati Soekarnoputri yang mengenakan pakaian warna merah, seragam kebesaran Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Tepat di atas gambar kedua tokoh itu, tertulis “Gebyar Pancasila”, sedangkan di bagian bawah tergores kalimat 1 Juni 1945. Ini merupakan momentum ketika Bung Karno menyampaikan pidato tentang konsep Pancasila sebagai dasar negara di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pada 1 Juni 2008, usia kelahiran Pancasila sudah 63 tahun, usia yang cukup tua.
Namun, apa yang terjadi setelah 63 tahun itu? Menurut Wartawan Senior Jusuf Ishak, saat menyampaikan usulannya dalam sidang BPUPKI 63 tahun lalu, Soekarno mengatakan, dalam Pancasila terletak mimpi Indonesia merdeka. Setelah melalui perjuangan bersenjata, mimpi Indonesia merdeka itu adalah Indonesia yang mandiri, berperikemanusiaan, dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Untuk mencapainya dibutuhkan persatuan atau Bung Karno menyebutnya gotong-royong.
Namun, setelah tahun 1965, ketika Orde Baru (Orba) berkuasa dengan Soeharto sebagai pemimpinnya, cita-cita Indonesia mandiri seperti yang ada dalam Pancasila berubah menjadi Indonesia tergantung. Sejak saat itulah, Indonesia kembali didikte asing.
Kekayaan alam yang berlimpah ruah di negeri ini kemudian lebih banyak dikelola oleh asing yang bekerja sama dengan segelintir elite politik sebagai kaki tangannya kaum imperialis. Sebaliknya, rakyat yang harus mendapatkan kesejahteraan dari kekayaan alam yang berlimpah itu hanya mendapatkan remah-remah dari kelas atas.
“Bagi saya saat ini hanya ada dua periode setelah Indonesia merdeka 1945. Pada 1945–1965, Indonesia mandiri, dan setelah 1965, Indonesia tergantung. Hasil dari kekayaan alam masuk ke kantong-kantong segelintir orang, bukan masuk ke kantong rakyat,” kata Jusuf Ishak.
Ia juga tak sependapat, mengaitkan Pancasila dengan peristiwa 1 Oktober 1965. Baginya, peristiwa itu bukanlah Kesaktian Pancasila seperti yang dinyatakan rezim Orba, tetapi justru awal mula Pancasila ditunggangi Soeharto untuk berkolaborasi dengan imperialis.
Indonesia yang tergantung itu, kata Jusuf, juga tetap identik dengan bangsa ini sekalipun reformasi sudah bergulir 10 tahun sejak 1998. Buktinya, terjadi privatisasi aset-aset negara yang sangat vital, seperti Indosat di era pemerintahan Megawati Soekarnoputri.
Selain itu, pengelolaan sumber kekayaan semakin banyak didominasi oleh asing dengan pembagian hasil yang tidak setara bagi Indonesia. Pendidikan dan kesehatan yang menjadi kebutuhan publik justru dilepas kepada pasar. Yang paling mutakhir adalah kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menaikkan harga minyak sesuai mekanisme pasar.
“Reformasi itu tetap melahirkan reformasi yang makin tergantung. Indonesia bahkan makin terjerumus pada ketergantungan. Cita-cita mandiri makin jauh,” katanya.

Elite Tak Pancasilais
Heru Nugroho, sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menambahkan Pancasila kini memang sudah tidak dijiwai lagi baik oleh elite politik maupun rakyat. Bahkan kebijakan yang dibuat oleh elite politik lebih condong pada ideologi pasar bebas, dimana kesejahteraan hanya pada segelintir orang.
“Yang paling bertanggung jawab atas hilangnya nilai Pancasila adalah elite. Rakyat tetap memiliki cita-cita keadilan dan kesejahteraan. Ini mencerminkan mereka (pemimpuin) tidak Pancasilais,” kata Heru.
Bukti konkret, penguasa tidak Pancasilais itu, kata Heru, adanya privatisasi dan tidak adanya jaminan pendidikan dan kesehatan bagi rakyat. Dalam Pancasila, alat produksi dikontrol oleh rakyat, namun yang ada saat ini, perusahaan berdiri tapi tak ada keterlibatan rakyat di sana. Di setiap pendirian pabrik, tanah milik rakyat dibebaskan. Seharusnya, ketika didirikan pabrik, rakyat ikut memiliki saham.
Heru mengatakan, kebijakan pasar bebas yang digandrungi pemerintah dan elite politik itu mengakibatkan marginalisasi rakyat secara berkepanjangan. Jika ini terus berlangsung, bukan mustahil, masyarakat akan semakin apatis terhadap semua bentuk perubahan yang dilakukan pemerintah. Malah sebaliknya, radikalisme bisa semakin meningkat.
Lantas apa yang harus diperbuat?
Menurut sejarawan Asvi Warman Adam, dalam kondisi kesejahteraan yang makin jauh, nilai-nilai Pancasila saat ini harus ditegakkan kembali. Nilai Pancasila yang paling utama itu adalah persatuan. Dengan demikian, negara harus mulai memberikan kebebasan bagi anak bangsa untuk mengapresisasikan pendirian politiknya.
Kalaupun nasakom tidak dikehendaki, pemerintah seharusnya tidak alergi dengan nasional agama dan sosialisme. Terlebih lagi, Soekarno sudah membuat konsep sosialisme yang sesuai dengan nilai-nilai di negeri ini dengan dasar gotong royong.
“Sosialisme itu tetap diperlukan, karena hanya teori inilah yang hanya bisa menjadi pisau analisa untuk merontokan kapitalisme. Nasionalisme maupun agama tanpa sosialisme tetap tidak bisa jalan, karena hanya sosialisme yang memberikan konsep nyata mengenai tatanan masyarakat,” paparnya.

Persatuan
Meskipun ada persatuan, Jusuf Ishak mengatakan persatuan itu tidak boleh dilakukan dengan status quo. Alasannya, status quo merupakan pihak yang mewakili imperialisme dan kapitalisme. Secara otomatis, mereka pun juga tidak bisa bersatu karena persatuan itu justru ditujukan untuk melikuidasi kekuatan reaksioner
Persatuan yang dibutuhkan saat ini adalah persatuan diantara elemen pembaruan yang diwakili oleh para pemuda. Namun, untuk menuju ke tahap itu, pemuda harus terlebih dahulu membenarkan cara berpikirnya.
Cara berpikir itu tidak boleh ilusif (mengawang-awang), tetapi harus berdasarkan realitas yang ada, dan secara nyata mengenali musuh bersamanya. Musuh itu bukan hanya person melainkan sistem yang secara otoriter anti perikemanusiaan dan kesejahteraan rakyat.
“Saat ini perubahan tidak ada bukan karena status quo yang kuat, tetapi elemen yang ada di barisan pembaruan tercerai berai. Mereka kadang bermusuhan dengan pihak yang seharusnya menjadi kawan. Permusuhan itu seharusnya diarahkan pada yang pokok, yakni kekuatan yang anti kesejahteraan. Tanpa itu, rakyat akan terus ditindas,”

Era globaisasi sangatlah dekat sehingga banyak negara berkembang atau negara yang sekarang mau maju seperti negara Korea, Taiwan, Hongkong, Australia, Dan Canada. yang menentang era pasar bebas karena merugikan mereka sebab Amerika sebagai negara Adidaya merencanakan perdagangan bebas ini bisa meraup keuntungan yang sangat besar dari negara - negara tersubut, dampak dari perdagangan bebas terhadap indonesia adalah indonesia sebagai negara berkembang nanti akan selalu bergantung kepada negara maju yang meraup keuntungan dari negara - negara yang merasa di rugikan oleh Amerika Serikat.


100 th Kebangkitan Nasional

Pemkot Cirebon Serahkan Bantuan Pada Hari Kebangkitan Nasional

Pemkot Cirebon menyerahkan bantuan sarana peribadatan dan Bantuan Modal Usaha Bergulir UUPPKS Tahun 2008, Rabu (21/5), pada upacara peringatan 100 tahun hari kebangkitan nasional di Alun-alun Kejaksaan.

Bantuan sarana peribadatan diserahkan secara simbolis oleh H. Sunaryo HW, Wakil Walikota Cirebon, kepada Masjid Al-Iklas Kelurahan Karyamulya Kecamatan Kesambi, Pondok Pesantren Sabilul Mutaqien Benda Kerep Kelurahan Argasunya Kecamatan Harjamukti, dan kepada Musholla Daarut Taubah Kelurahan Panjunan Kecamatan Lemahwungkuk.

Penyerahan bantuan pada peringatan hari kebangkitan nasional di

Kota Cirebon. (Pemkot Cirebon)

Selain itu, bantuan juga diserahkan kepada 4 kelompok usaha peningkatan pendapatan Keluarga Sejahtera di Kota Cirebon, yaitu kelompok Melati RW 01 Kelurahan Harjamukti, Kecamatan Harjamukti, Kelompok Mawar RW 06 Kelurahan Kesambi Kecamatan Kesambi, Kelompok Mangga RW 08 Kelurahan Pekalangan Kecamatan Pekalipan dan Kelompok Anggrek RW 03 Kelurahan Kesenden Kecamatan Kejaksan.

Sebelumnya, pada peringatan hari pendidikan nasional, Jum'at (2/5), Walikota Cirebon menyerahkan bantuan sembako kepada Nandang (penjaga SD Karanganyar), alat tulis serta sepatu kepada Larasati (SD Pesisir Baru), dan obat cacing kepada 20 pelajar Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kebon Baru I.

Penyerahan bantuan pada peringatan hari pendidikan nasional di

Kota Cirebon. (Pemkot Cirebon)

Selain itu, Walikota juga menyerahkan piagam penghargaan dalam rangka Hardiknas tahun 2008 kepada Dra. Hj. Munyati, MM penghargaan atas pengabdian/jasa sebagai pengawas sekolah berprestasi, Drs. Ferry Supeno penghargaan sebagai Kepala Sekolah Rintisan SBI dan Pengembangan MBS, H. Elang Tomy Iplaludin, SPd Juara I UPI Award Tingkat Nasional Kategori Guru Pendidikan Seni Tari, Kevint Valiant Kostaman Juara I Cabang Olah Raga Renang Tingkat Nasional, Drs. Alan Karlan Juara I Pengawas TK/SD berprestasi Tingkat Kota Cirebon Tahun 2008, Hj. Suciati SPd , Juara I Kepala Sekolah SMP Berprestasi, Drs. H. Sugihartono Juara I Kepala Sekolah SMK berprestasi, LPK GET Juara I Kursus Bahasa Inggris.

Acara ditutup dengan bersama-sama memainkan alat musik angklung. (Lida, Sumber: Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Cirebon)

100 tahun kebangkitan nasional

Gong Perdamaian Nusantara Diresmikan di Taman Pintar Yogyakarta

Gong Perdamaian Nusantara, simbol pemersatu nusantara, diresmikan di Plaza Taman Pintar Yogyakarta, Selasa (20/5).

Gong Perdamaian Nusantara dicanangkan sebagai pembaruan komitmen kebangkitan bangsa yang telah terjadi 100 tahun lalu yang dipatrikan kembali dalam bentuk simbol perdamaian nusantara. Dengan harapan dari tanah Yogyakarta ini mampu menjadi lentera nusantara dalam menciptakan perdamaian Indonesia yang kekal damai sepanjang masa.Gong Perdamaian Nusantara melambangkan persatuan dari kabupaten/kota, propinsi dan agama di seluruh Indonesia. Sebelum kelahiran Gong Perdamaian Nusantara ini sudah dibuat Gong Perdamaian Dunia yang merupakan persaudaraan umat manusia di dunia. Terakhir dicanangkan di Hongaria yang merupakan upaya untuk mengangkat martabat bangsa di mata dunia agar bangsa ini tidak lagi dilecehkan oleh bangsa lain. Pada kesempatan itu juga dilakukan peletakan tanah dari 33 provinsi yang melambangkan bangsa Indonesai bersatu sebagai pondasi kekuatan perdamaian dunia.

Peresmian Gong Perdamaian Nusantara. (Pemkot Yogyakarta)

Pada kesempatan tersebut, Herry Zudianto, Walikota Yogyakarta, membacakan Puisi I Abad Kebangkitan Nasional yang menyuarakan agar bangsa Indonesia bangkit dan bersatu.

Upacara

Pada Upacara peringatan 100 tahun hari kebangkitan nasional, Rabu (21/5), di halaman Balaikota, Herry Zudianto, menyematkan pin Merah Putih kepada delapan orang Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta sebagai tanda Kebangkitan Nasional Ke II. dalam upacara kali ini Walikota juga menyerahkan Surat Keputusan Purna Tugas kepada 45 karyawan di Lingkungan Pemkot yang akan memasuki purna tugas pada 1 September 2008.

Penyematan pin merah putih di Pemkot Yogyakarta. (Pemkot Yogyakarta)

Menurut Wagiyo, pegawai Dinas Kesejateraan Sosial, pihaknya telah mempersiapkan diri untuk memasuki purna tugas, dengan lahan pertanian yang cukup luas. "Saya telah mempersiapkan diri sejak lima tahun terakhir dengan bertani serta berternak. Areal sawah yang ada, sebagian saya tanami padi, sebagian sayur-sayuran dan sedikit ada kolam, yang pasti untuk mengisi waktu luang agar tidak nglangut," tandas pria yang tinggal di Gancahan Sleman.

Fam Trip

Sebanyak 13 wartawan dari berbagai negara dan beberapa blogger mengikuti Fam Trip yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta selama 3 hari mulai tanggal 18-21 Mei di berbagai obyek wisata untuk mendukung dan mempromosikan Kota Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata utama sekaligus mendukung Program Visit Indonesia Year 2008.

Setelah mengikuti Fam Trip ke berbagai obyek wisata antara lain, Kraton Yogyakarta, Taman Sari, Musium Ulen Sentanu dan berbagai tempat obyek wisata yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta, peserta Fam Trip berkesempatan mengikuti Gala Dinner di Pool Side Hotel Santika, Bersama Wakil Walikota Yogyakarta H Haryadi Suyuti dan insan pariwisata Yogyakarta Selasa (20/5).

Peserta Fam Trip. (Pemkot Yogyakarta)

Wakil Walikota Yogyakarta H Haryadi Suyuti mengatakan, beberapa obyek wisata di Yogyakarta dan sekitarnya yang telah dikunjungi diharapkan dapat menjadi satu pengalaman secara empiric termasuk interaksinya dengan masyarakat Yogyakarta yang lebih kental nuansa etniknya dapat dikenalkan lagi dimanca negara. "Pada tahun 2000an jumlah wisatawan mancanegara bisa sampai 25%, saat ini kurang dari 10%, tentunya ini sangat memprihatinkan walaupun wisatawan dalam negeri banyak, diharapkan dengan Fam Trip ini Yogyakarta bisa lebih dikenalkan dan wisatawan khususnya wisatawan manca negara akan lebih banyak berkunjung ke Yogyakarta" kata Haryadi Suyuti.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Hadi Muhtar, SE mengatakan, Fam Trip ini dilaksanakan sebagai salah satu upaya untuk menjalin kerjasama media diwilayah Indonesia dan Asean dan upaya untuk memperkenalkan Yogyakarta ke daerah atau negara lain dan diharapkan kunjungan wisatawan ke Yogyakarta juga meningkat. "Dengan Fam Trip ini nantinya, diharapakan para wartawan dapat menulis tentang pariwisata di Yogyakarta sehingga banyak wisatawan dari daerah edar media wartawan dapat berkunjung dan menikmati berbagai obyek wisata di Yogyakarta, diharapkan kunjungan wisatawan ke Yogyakarta akan meningkat" kata Hadi Muhtar

Pada kesempatan ini para peserta juga mengikuti rangkaian peresmian Gong Perdamaian Nusantara yang diadakan di Taman Pintar sebagai peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional Indonesia. Dalam acara ini ditampilkan juga berbagai macam tarian dari Indonesia yang mendukung tema perayaan HUT ke 250 Th Kota Yogyakarta yakni Celebration of Cultural Unity. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Yogyakarta berasal dari latar belakang yang beragam ditunjang dengan predikat kota pendidikan, kota pariwisata sekaligus kota budaya yang berjalan beriringan dan bersinergi sehingga dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Yogyakarta.